Wonosobo, satumenitnews.com – Udara sejuk Dieng Kulon menyelimuti Kedai Ongklok, Selasa siang (27/1/2026). Di ruangan yang hangat itu, puluhan perangkat desa dan warga dari kawasan dataran tinggi berkumpul bukan untuk berdebat soal angka-angka rumit, melainkan untuk merenungkan kembali hakikat hidup bertetangga.
Dalam acara Training Series for Community II yang difasilitasi oleh KITA Institute, sebuah pertanyaan sederhana namun menggelitik dilontarkan ke tengah forum: Jika desamu mendapat dana 10 miliar rupiah, mau dipakai untuk apa?
Hening sejenak. Pertanyaan itu membuka diskusi mendalam bersama Camat Kalikajar, Aldhiana Kusumawati, S.STP, MM. Tidak hadir dengan gaya birokrat yang kaku, Aldhiana justru mengajak peserta menyelami filosofi alam untuk menata desa. Ia menyodorkan cermin kehidupan dari makhluk kecil yang sering kita abaikan: jamur atau fungi.
Belajarlah dari jamur. Ia bekerja dalam sunyi di bawah tanah, membentuk jaringan rumit yang justru menyelamatkan hutan. Jamur tidak bekerja sendirian, ia mengirim nutrisi dari pohon yang sehat ke pohon yang sakit.
Metafora ini menjadi pengingat lembut bagi para pemangku kebijakan di desa. Pembangunan desa sejatinya adalah membangun sebuah ekosistem. Seperti jamur, setiap elemen masyarakat—mulai dari petani, pemuda, hingga ibu rumah tangga—harus terhubung dan saling menopang. Jika satu bagian sakit, bagian lain harus hadir menyembuhkan, bukan membiarkannya layu sendirian.
Diskusi kemudian menyentuh sisi paling sensitif dari perencanaan desa: seni mendengarkan. Seringkali, niat baik pemerintah desa tidak sampai ke hati warga karena kurangnya dialog yang tulus. Aldhiana membagikan kisah menyentuh tentang bagaimana asumsi bisa menyesatkan.
Banyak dari kita mengira saudara kita yang tunarungu membutuhkan alat bantu dengar gratis. Ternyata, saat kita duduk dan bertanya dari hati ke hati, keinginan mereka sederhana. Mereka merindukan angkot yang memiliki bel atau lampu isyarat, agar mereka bisa mandiri saat bepergian tanpa harus cemas terlewat tujuan.
Begitu pula dengan sahabat tuna daksa. Bukan kaki palsu gratis yang mereka impikan, melainkan ilmu. Mereka ingin dipertemukan dengan para ahli yang bisa mengajari cara membuat kaki palsu sendiri. Ada semangat kemandirian yang luar biasa di sana, yang sering luput dari program-program bantuan sosial yang bersifat instan.
Momen ini menyadarkan peserta bahwa partisipasi bukan sekadar daftar hadir rapat. Partisipasi adalah memberikan ruang aman dan nyaman bagi setiap warga, termasuk mereka yang selama ini suaranya tak terdengar, untuk menyampaikan mimpi-mimpi mereka tentang desa.
Astin Meiningsih, Koordinator Program KITA Institute, menekankan bahwa ruang belajar seperti inilah yang dibutuhkan. Sebuah ruang di mana desa-desa di lingkar panas bumi tidak hanya bicara soal infrastruktur fisik, tetapi juga membangun infrastruktur sosial yang tangguh.
Terkait dinamika distribusi bantuan perusahaan atau CSR yang sempat menjadi perbincangan, forum ini justru melihatnya dari kacamata yang lebih luas. Dengan pendekatan ekosistem, batas-batas administratif desa menjadi cair. Rezeki yang diterima satu wilayah, pada akhirnya adalah energi bagi wilayah lain dalam satu kesatuan kabupaten.
Seperti Kalikajar yang memiliki potensi wisata Gunung Sumbing dan kekayaan hortikultura, ia adalah bagian tak terpisahkan dari ekosistem Wonosobo yang juga ditopang oleh Dieng. Semuanya saling membutuhkan, saling mengisi.
Pada akhirnya, pertemuan di Kedai Ongklok ini meninggalkan pesan kuat. Membangun desa memang ribet di awal karena harus mendengar satu per satu suara warga. Namun, proses yang lelah itu akan terbayar dengan ketenangan di akhir.
Saat transparansi dibuka, kepercayaan akan tumbuh. Saat kepercayaan tumbuh, rasa memiliki akan berakar kuat. Dan seperti jamur yang menjaga hutan, warga akan dengan sendirinya menjaga desa mereka, bukan karena perintah, tapi karena cinta.

