Wonosobo, satumenitnews.com – Di tengah gencarnya sosialisasi Tes Kemampuan Akademik atau TKA di Kabupaten Wonosobo, terselip sebuah realita miris tentang dunia pendidikan dasar. Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) menyoroti tajam pergeseran pola asuh wali murid, khususnya di kawasan pinggiran.
Fakta ini mencuat saat satumenitnews.com mengonfirmasi rentetan keluhan para guru di lapangan kepada jajaran petinggi Disdikpora Wonosobo pada Kamis (5/3/2026).
Di sekolah-sekolah dasar pinggiran, tak sedikit guru yang mengeluhkan siswanya datang dengan mata kantuk berat karena dibiarkan begadang bermain game semalaman.
Pembiaran dan kurangnya pengawasan orang tua ini merembet ke urusan disiplin. Banyak anak didik yang abai mengerjakan pekerjaan rumah hingga sering lupa membawa buku pelajaran. Jangankan mendampingi anak belajar, sekadar menanyakan perkembangan sekolah pun jarang dilakukan oleh sebagian wali murid.
Namun ada ironi yang cukup menggelitik. Di saat pengawasan belajar terasa kendor, orang tua justru terpantau sangat jor-joran urusan dompet. Memberi uang saku dalam jumlah cukup besar tak jadi soal, begitu pula saat harus iuran untuk acara tanggapan desa, berapapun nominalnya langsung dibayar.
Kondisi ini berbanding terbalik ketika pihak sekolah meminta partisipasi untuk pembelian Lembar Kerja Siswa atau LKS. Alih-alih mendukung, sebagian wali murid justru keberatan dan buru-buru mengadukan pungutan tersebut ke layanan LaporBup.
Kepala Disdikpora Wonosobo Dr. Drs. Musofa, M.Pd. merespons serius rentetan temuan lapangan ini. Ia mengingatkan bahwa persoalan ini sangat bersangkutan dengan banyaknya kasus kurang perhatiannya orang tua terhadap pendidikan anak.
“Mari bersama kampanyekan budaya belajar agar anak-anak kita paham kehidupan dan dapat beri manfaat untuk bantu kehidupan orang lain. Tidak usah khawatir, semangat bantu orang lain pasti akan dibantu Allah,” ujar Musofa menanggapi temuan tersebut melalui pesan WhatsApp.
Ia menegaskan bahwa anak adalah amanah sekaligus buah hati tempat mencurahkan kasih sayang. Namun, cara mencurahkan kasih sayang inilah yang harus terus dievaluasi.
“Kasih sayang yang tulus modal perkembangan anak. Hati-hati jangan salah mencurahkan kasih sayang, pantau dampaknya setiap saat,” tegasnya.
Musofa mengingatkan dampak buruk dari pembiaran yang berkedok kasih sayang. “Jika muncul dampak anak terlalu manja, kurang disiplin dan anak durhaka, bisa jadi ada curahan yang dianggap kasih sayang tetapi sebenarnya bukan kasih sayang,” imbuhnya.
Ia pun berpesan kepada para wali murid untuk kembali pada hakikat pendidikan. “Ingatlah selalu bahwa anak amanah Allah, orang tua yang kuat selalu rela berkorban demi kebaikan anaknya,” kata Musofa.
Menyambung hal tersebut, Sekretaris Disdikpora Wonosobo Moh. Burhanudin, S.Sos., M.Si. turut menyoroti fenomena wali murid yang begitu reaktif menolak partisipasi LKS namun royal untuk urusan lain.
“Ya itu mas, rata-rata masyarakat mindsetnya sudah terdoktrin dengan ‘Pendidikan Gratis’. Padahal faktanya BOS itu hanya cukup untuk proses pembelajaran minimal,” ungkap Burhanudin.
Burhanudin mengingatkan kembali bahwa aturan dari pusat sebenarnya sangat membuka ruang bagi orang tua untuk ikut andil secara finansial.
“Sementara di UU Sisdiknas juga mengakomodir pembiayaan pendidikan dari komponen partisipasi masyarakat. Perlu penyadaran terus-menerus,” pungkasnya.

