Wonosobo, satumenitnews.com – Suasana perburuan takjil di Pujasera Kompleks Al-Mansyur pada Kamis (5/3/2026) sore terasa berbeda. Di tengah hiruk-pikuk warga yang mencari menu berbuka puasa, sejumlah petugas berseragam dari Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo tampak sibuk mendatangi satu per satu lapak pedagang.
Membawa peralatan uji portabel, tim ini langsung mengambil berbagai sampel makanan dan minuman yang dijajakan. Langkah sigap ini merupakan bagian dari operasi pemantauan keamanan pangan untuk melindungi warga selama bulan suci Ramadan.
Di sela-sela pengujian langsung di lokasi, Koordinator Seksi Farmasi, Makanan, Minuman, dan Alat Kesehatan Dinkes Wonosobo, Sutriatmoko, menjelaskan kepada awak media bahwa blusukan ini adalah agenda wajib tahunan. Target operasi mereka mencakup pujasera yang tersebar di 15 kecamatan hingga pusat-pusat kuliner di jantung kota.
“Kami melakukan uji sampel terhadap bahan-bahan yang berpotensi membahayakan, seperti boraks, formalin, pewarna Rhodamin B, serta Methanil Yellow yang sering disalahgunakan pada makanan,” ujar Sutriatmoko sembari meneteskan cairan reagen ke salah satu sampel jajanan.
Raut lega terlihat usai serangkaian tes cepat selesai. Sutriatmoko memastikan seluruh jajanan yang dijajakan di kawasan tersebut aman dari cemaran kimia.
“Alhamdulillah, dari sekitar 72 sampel yang diuji, tidak ditemukan adanya bahan berbahaya. Seluruhnya aman untuk dikonsumsi masyarakat,” ungkapnya.
Meski pujasera hari ini bersih dari zat berbahaya, petugas tetap waspada. Sebelumnya, tim Dinkes sempat menyisir sejumlah pasar tradisional dan menemukan beberapa bahan makanan positif mengandung zat berbahaya. Namun, secara umum kondisi keamanan pangan di Wonosobo saat ini masih terkendali dan aman.
Label Sehat untuk Gerobak Higienis
Selain menguji kandungan kimia langsung di tempat, pandangan petugas juga menyoroti kebersihan lapak melalui Inspeksi Kesehatan Lingkungan. Mata mereka mengamati cara pedagang mengolah makanan hingga memastikan lokasi jualan tidak rentan kontaminasi kotoran atau sampah.
“Kami juga memberikan edukasi dan pembinaan kepada para pedagang agar senantiasa menjaga kebersihan serta higienitas makanan yang dijajakan,” jelas Sutriatmoko.
Sebagai bentuk apresiasi dan jaminan mutu, petugas langsung menempelkan stiker khusus pada gerobak atau gerai yang terbukti memenuhi standar kebersihan. Stiker ini menjadi sinyal aman bagi pembeli bahwa lapak tersebut telah lulus sensor inspeksi kesehatan lingkungan.
Panduan Deteksi Dini Makanan Berbahaya
Turut mendampingi di lokasi, Staf Seksi Farmasi, Makanan, Minuman, dan Alat Kesehatan Dinkes Wonosobo, Rizal Dwi Saputra, membagikan trik jitu bagi warga yang sedang berburu takjil maupun membeli produk kemasan.
Ia mengingatkan masyarakat untuk disiplin menerapkan metode Cek KLIK saat membeli produk pabrikan. Konsumen wajib memeriksa keutuhan kemasan, membaca detail label, memastikan nomor izin edar, serta meneliti tanggal kedaluwarsa sebelum membayar.
Untuk jajanan kaki lima, Rizal meminta warga mengaktifkan radar kebersihan. Pembeli diimbau menghindari makanan dari lapak yang kotor, dekat tempat sampah, atau yang menyajikan makanan dengan warna terlalu terang.
“Perhatikan juga warna makanan. Jika warnanya terlalu mencolok atau tidak wajar, masyarakat perlu lebih berhati-hati karena hal tersebut bisa menjadi indikasi adanya penggunaan pewarna berbahaya,” jelas Rizal kepada warga yang melintas.
Ia kemudian menjabarkan ciri fisik jajanan beracun yang bisa dideteksi dengan panca indra. Jajanan berboraks, seperti bakso atau olahan ikan asin, biasanya memiliki tekstur luar biasa kenyal, keras saat dipotong, serta meninggalkan jejak rasa asin dan agak pahit di tenggorokan.
Sementara itu, makanan berformalin bisa dikenali dari bau kimia yang menyengat, penampakan yang lebih basah atau berminyak, serta dijauhi oleh lalat atau serangga lain.
Untuk pewarna berbahaya, warga bisa melihat coraknya dengan saksama. Rhodamin B menghasilkan warna merah atau merah muda menyala yang tidak merata, sedangkan Methanil Yellow memunculkan warna kuning cerah yang jauh dari kesan alami.
“Pemerintah Kabupaten Wonosobo berkomitmen untuk terus melakukan pengawasan agar bahan pangan yang beredar di pasar maupun pujasera tetap aman dikonsumsi masyarakat,” pungkas Rizal menutup kegiatan pemantauan hari itu.