Wonosobo, satumenitnews.com – Pemandangan di kawasan wisata Dieng dan pegunungan Wonosobo kini menyimpan masalah serius di balik keindahannya. Maraknya pembangunan penginapan dan tempat wisata ternyata memicu kerusakan alam yang semakin parah di area hutan lindung.
Ketua Yayasan Jagat Tunas Bumi (JATUBU), Mantep Abdul Ghoni, membongkar kenyataan pahit yang terjadi di lapangan. Ia menyebut ada siklus aneh yang kini menjadi tren berbahaya. Lahan pertanian milik warga perlahan habis menjadi bangunan beton, yang memaksa petani merusak hutan demi menyambung hidup.
“Fenomena baru lahan kentang menjadi vila, hutan menjadi lahan kentang,” ujar Mantep Abdul Ghoni saat ditemui di Wonosobo, Senin (26/1/2026).
Kalimat singkat tersebut merangkum kekacauan tata ruang yang terjadi saat ini. Industri pariwisata yang tumbuh subur mendesak lahan pertanian ke pinggir, dan akhirnya hutan-lah yang menjadi korban terakhir dari keserakahan tersebut.
Petani Terusir ke Atas
Akar masalah ini bermula dari tingginya harga tanah di pinggir jalan utama dan kawasan wisata. Investor berlomba-lomba membeli ladang warga untuk disulap menjadi vila, hotel, atau kafe kekinian. Petani yang tergiur uang besar akhirnya melepaskan tanah warisan mereka.
Namun, persoalan muncul ketika uang hasil jual tanah itu tidak membuat mereka berhenti bertani. Kehilangan lahan di bawah membuat mereka mencari lahan baru di area yang lebih tinggi dan curam.
“Mereka tetap butuh makan, akhirnya naik ke atas. Hutan yang tadinya rimbun dibabat habis untuk dijadikan kebun kentang baru menggantikan tanah yang sudah jadi gedung,” jelas Mantep.
Akibatnya, pohon-pohon besar yang berfungsi menahan air dan tanah longsor hilang. Hutan yang seharusnya hijau abadi kini berubah menjadi hamparan tanaman sayur yang rapuh saat dihantam hujan deras.
Menunggu Bencana Datang
Dampak dari tukar guling lahan ini sangat mengerikan bagi warga Wonosobo, terutama yang tinggal di wilayah bawah. Tanpa hutan yang menyerap air, hujan deras langsung berubah menjadi aliran air bah yang membawa lumpur ke sungai-sungai kota.
Mantep mengingatkan bahwa kondisi ini seperti bom waktu. Jika pembangunan vila terus memakan lahan pertanian subur dan membiarkan hutan digunduli sebagai gantinya, bencana banjir dan longsor hanya tinggal menunggu waktu.
“Kita tidak anti pembangunan, tapi kalau caranya seperti ini, kita sedang mewariskan bencana buat anak cucu,” tegasnya.

