Wonosobo, satumenitnews.com – Aksi unjuk rasa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa & Masyarakat Wonosobo Melawan di depan Kantor Bupati Wonosobo pada Jumat (26/06/2026) siang diwarnai ketegangan. Massa yang terdiri dari kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Wonosobo, BEM UNSIQ, pengemudi ojek online (ojol), hingga guru honorer ini sempat mengancam akan mengepung gedung dewan.
Pada awalnya, massa aksi menjadwalkan orasi di depan Gedung DPRD Kabupaten Wonosobo. Namun, di tengah jalan, rute berbelok dan massa memusatkan aksinya di depan Kantor Bupati Wonosobo.
Ketegangan memuncak ketika massa menuntut kehadiran Bupati dan Anggota DPRD untuk mendengarkan tuntutan mereka secara langsung. Alih-alih perwakilan dari dewan, yang keluar menemui demonstran justru Sekretaris Daerah (Sekda) Wonosobo, One Andang Wardoyo.
Massa aksi secara tegas menolak kehadiran Sekda dan bersikeras agar Anggota DPRD segera hadir di lokasi. Dalam orasinya, demonstran bahkan mengancam akan bergeser untuk mengepung dan menduduki Gedung DPRD Wonosobo apabila tuntutan mereka untuk berdialog dengan anggota dewan tidak dipenuhi.
Membawa Tuntutan Nasional dan Daerah
Dalam aksi tersebut, massa membawa dua poin besar tuntutan yang mencakup isu nasional dan persoalan lokal Kabupaten Wonosobo.
Pada tingkat nasional, mahasiswa menuntut penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai membebani APBN dan rawan korupsi. Selain itu, mereka menolak keras revisi UU TNI dan Polri yang dianggap mengembalikan supremasi sipil ke era dwifungsi, serta menuntut penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Sementara itu, untuk isu lokal Wonosobo, tuntutan difokuskan pada kinerja Pemerintah Daerah. Ketua Cabang PMII Wonosobo, Ahmad Nursholih, mendesak penyelesaian masalah infrastruktur yang masih tertinggal.
“Kami menemukan lebih dari 400 kilometer jalan kabupaten masih dalam kondisi rusak parah. Kami mendesak pemerintah daerah untuk dua tahun ke depan, memprioritaskan alokasi APBD murni untuk pembangunan jalan dan penerangan jalan,” tegas Ahmad di sela-sela aksi.
Selain infrastruktur, massa juga menuntut pengentasan kemiskinan, audit independen terhadap seluruh BUMD, transparansi anggaran desa, penuntasan pembangunan stadion, hingga alokasi anggaran khusus untuk kesejahteraan guru honorer di Wonosobo.
DPRD Turun Suasana Kian Memanas
Setelah dialog panjang yang sempat kian memanas dan diwarnai adu argumen dengan anggota DPRD massa aksi menyampaikan aspirasinya dengan nada tegas.
Setelah aspirasi diterima secara langsung oleh perwakilan DPRD, massa Aliansi Mahasiswa & Masyarakat Wonosobo Melawan akhirnya membubarkan diri dengan tertib meninggalkan area Kantor Bupati.
“Kita hormati aspirasi secara konstitusional ini. Ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan demokrasi yang dijamin konstitusi, sebagai wujud kepedulian atas kondisi bangsa dan fungsi kontrol atas kebijakan eksekutif maupun legislatif,” ujar Nurkholis saat diwawancarai usai massa bubar.
Ia juga mengapresiasi massa aksi yang tetap mampu mengendalikan situasi meski sempat terjadi adu mulut. “Alhamdulillah, adik-adik mahasiswa bisa menjaga kondisi Wonosobo tetap aman dan damai saat menyampaikan orasinya,” pungkasnya.