Bupati Afif: Anggaran Cekak Haram Mengeluh, Kalau Mau Menang Lari Harus Kencang

Listen to this article

Wonosobo, satumenitnews.com – Ada pemandangan menarik usai penutupan acara Musrenbang Kecamatan di Pendopo Bupati, Senin (26/1/2026). Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, justru terlihat lebih santai namun tajam saat berbincang dengan awak media di luar forum resmi. Tidak bicara soal rumitnya angka-angka statistik, Afif justru menggunakan bahasa lapangan untuk menggambarkan kondisi “dapur” Pemerintah Kabupaten Wonosobo saat ini.

Di hadapan wartawan, Afif tidak menampik bahwa anggaran daerah memang terbatas. Namun, ia memberikan peringatan keras kepada seluruh pejabatnya agar kondisi kantong yang tipis tidak dijadikan alasan untuk bermalas-malasan melayani warga. Baginya, mentalitas pejabat jauh lebih penting daripada besaran nominal uang yang dikelola.

Ia mengajak semua pihak mengingat kembali masa-masa kelam saat pandemi menghantam.

“Kita sudah belajar dari pengalaman pandemi COVID-19 yang lalu. Saat itu, kita dihantam badai pandemi dengan anggaran yang sangat terbatas. Pertanyaannya: bisa tidak kita melayani masyarakat? Jawabannya: tetap optimal dan lancar,” ujar Afif mengenang masa sulit tersebut.
Pesan moralnya sederhana. Jika saat pandemi yang serba sulit saja pemerintah bisa bekerja, maka tidak ada alasan untuk lembek di masa sekarang.

“Keterbatasan anggaran itu menjadi pembelajaran bagi kita untuk membuat skala prioritas. Kuncinya satu: jangan mengeluh,” tegasnya.

Filosofi Sepak Bola

Obrolan menjadi lebih menarik ketika Afif membahas soal kompetisi antar-daerah dalam menurunkan angka kemiskinan. Wonosobo memang berhasil menurunkan angka kemiskinan dari 15 persen menjadi 12 persen, sebuah capaian yang patut diacungi jempol. Namun, Afif enggan berpuas diri.

Bagi orang awam yang mungkin bingung dengan persentase statistik, Afif menyederhanakannya dengan analogi pertandingan olahraga. Ia melihat pembangunan daerah itu keras, seperti sebuah liga kompetisi.

“Meskipun secara peringkat di Jawa Tengah kita belum bergeser jauh, namun angka penurunannya sangat luar biasa. Ini adalah kompetisi; kabupaten lain juga bekerja keras, jadi kita harus berlari lebih kencang,” jelas Afif.

Ia lantas mengumpamakan birokrasi pemerintahannya seperti tim kesebelasan di lapangan hijau.
“Ibarat bermain bola, kalau mau menang, lari kita harus lebih cepat dari lawan,” tambahnya.

Filosofi ini yang ia sebut sebagai efisiensi gaya baru. Efisiensi bukan berarti pelit mengeluarkan uang, tapi membelanjakan uang dengan cepat dan tepat sasaran untuk mengejar ketertinggalan dari daerah lain.

Potong Kompas Lewat Baznas

Satu hal yang menarik perhatian adalah pengakuan jujur Bupati mengenai lambatnya birokrasi pemerintah. Afif menyadari, jika ada warga yang rumahnya kebakaran atau roboh hari ini, mereka tidak bisa menunggu proses pencairan anggaran pemerintah yang berbelit-belit dan memakan waktu berhari-hari.

Karena itu, ia mengambil “jalan tikus” yang sah dan cepat, yakni melalui Baznas. Ia mendorong ASN untuk berzakat bukan sekadar untuk ibadah, tapi untuk dana taktis darurat.

“Kecepatan penanganan itu penting. Jika terjadi musibah seperti kebakaran atau butuh perbaikan Rumah Tidak Layak Huni, kita tidak bisa selalu menunggu proses birokrasi anggaran yang memakan waktu,” ungkapnya realistis.

Dengan strategi ini, bantuan bisa turun di hari yang sama saat musibah terjadi. Ini adalah cara Afif mengakali kaku-nya sistem pemerintahan demi pelayanan yang lebih manusiawi bagi warga Wonosobo.

Related posts

Pejabat Wonosobo Rapat Tanpa Makan, Anggaran Dibedah Per Desil

Bukan Sekadar Ritual, Musrenbang Wonosobo 2027 Pertaruhkan Kualitas Usulan

Tanah Bergerak di Kejajar: Musibah Petani atau Sekadar Fenomena Alam Biasa?

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Read More