Wonosobo, satumenitnews.com – Unggahan video di media sosial yang memperlihatkan aliran material tanah menerjang kawasan perbukitan di Kecamatan Kejajar mendapat tanggapan resmi dari otoritas setempat. Peristiwa tersebut terkonfirmasi terjadi di perbukitan sebelah utara Desa Tieng, tepatnya masuk wilayah Desa Patak Banteng, pada Jumat, 23 Januari 2026.
Aliran air yang membawa material longsor tersebut bermuara ke Sungai Serayu dan merusak ekosistem pertanian di bawahnya. Fenomena ini menarik perhatian publik setelah visual luapan lumpur yang menutup akses air warga tersebar luas di jejaring informasi digital.
Menanggapi hal tersebut, Bpbd wonosobo sebut bukan bencana yang mengancam keselamatan jiwa secara langsung, namun lebih bersifat kerusakan aset produktif warga akibat faktor alam dan pola tanam di hulu.
Kronologi Berdasarkan Konfirmasi Kewilayahan
Camat Kejajar, Khoirul Anam, memberikan penjelasan mendalam saat dikonfirmasi pada Senin, 26 Januari 2026. Ia membenarkan bahwa cuaca ekstrem pada hari Jumat dan Sabtu menjadi pemicu utama ambrolnya material tanah dari tebing bukit.
“Kejadian itu hari Jumat, Sabtu itu memang ekstrem, hujannya agak lumayan. Itu kan longsor dari bukit sebelah utara Desa Tieng, airnya itu sama longsorannya itu kan melalui sungai kecil, jadi melebar ke sayuran itu sampai bawah,” ujar Khoirul Anam menjelaskan detail peristiwa yang terekam dalam video tersebut.
Debit air yang sangat tinggi membawa endapan tanah hingga keluar dari jalur sungai kecil. Akibatnya, material tersebut menutup hamparan tanaman sayuran yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Dampak Luasan Lahan dan Upaya Warga
Data dari pihak Kecamatan Kejajar menunjukkan dampak kerusakan yang cukup signifikan bagi ekonomi petani lokal. Estimasi luas lahan pertanian yang tertutup material lumpur mencapai 1,5 hektare. Luasan ini merupakan area tanam produktif yang menjadi tumpuan warga Desa Patak Banteng.
Merespons kejadian tersebut, masyarakat tidak tinggal diam. Sejak akhir pekan kemarin, warga melakukan aksi gotong royong secara masif di lokasi kejadian.
“Tadi sudah gotong royong masyarakat di lokasi itu untuk membetulkan salurannya,” tambah Khoirul. Perbaikan saluran ini bertujuan agar jika hujan kembali turun, air tidak lagi membawa lumpur ke area lahan yang masih selamat.
Soroti Perubahan Fungsi Lahan di Perbukitan
Selain faktor cuaca, Khoirul Anam menyoroti kondisi vegetasi di area hulu perbukitan yang kini berubah drastis. Ia menilai minimnya tanaman keras menjadi alasan mengapa tanah begitu mudah luruh saat diguyur hujan lebat.
Kawasan yang seharusnya menjadi daerah tangkapan air kini didominasi oleh tanaman sayuran berakar serabut. Hal ini membuat struktur tanah menjadi labil saat terjadi hujan ekstrem dengan durasi panjang.
Pihak pemerintah daerah saat ini masih terus melakukan pendataan terkait total kerugian materiil. Meski video yang beredar tampak mengerikan, otoritas memastikan tidak ada pemukiman warga yang terdampak langsung oleh pergerakan tanah ini.