Sleman, satumenitnews.com – Kebakaran hebat melanda tiga bangunan peternakan milik warga di Padukuhan Krasaan, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman pada Minggu (18/10) dini hari. Api mengamuk dan menghancurkan seluruh struktur bambu milik kelompok Lembu Lestari 2 serta menelan kerugian material hingga tujuh puluh juta rupiah.
Peristiwa kebakaran kandang sapi Krasaan Berbah ini memicu kepanikan massal saat warga tengah tertidur lelap. Mereka langsung terbangun dan berhamburan ke lokasi saat melihat kobaran api membakar tumpukan jerami kering di sekitar peternakan.
Warga bernama Sigit dan Harun pertama kali memergoki jilatan api sekitar pukul 04.30 WIB. Keduanya langsung mendobrak pintu dan menarik keluar sapi peliharaan milik Rusno sebelum kobaran api meruntuhkan atap kayu bangunan utama.
Mukiran, tetangga di sebelah timur lokasi, seketika memukul kentongan darurat untuk mengumpulkan massa. Ratusan warga langsung membanjiri lokasi dan mengepung area peternakan dengan membawa ember serta selang air seadanya untuk meredam suhu panas.
Manuver kolektif warga ini sukses menyelamatkan total delapan ekor sapi dewasa dari tiga bangunan yang saling berdempetan tersebut. Struktur kandang milik Rusno, Wasijo, dan Tri Pomo memang rata dengan tanah, namun seluruh hewan ternak bebas dari luka bakar fatal.
Penyebab Kebakaran Kandang Sapi Krasaan Berbah Diduga dari Sisa Sampah
Pemicu insiden mematikan ini mengarah pada aktivitas pembakaran sisa pakan ternak atau seresah yang menyala tanpa pengawasan. Hembusan angin subuh dan kondisi kemarau panjang membuat percikan api dengan cepat melompat ke tumpukan jerami persediaan.
Tiga armada truk pemadam berkapasitas ribuan liter dari wilayah Sleman dan Bantul mendarat di titik lokasi sekitar pukul 05.30 WIB. Laporan darurat ini memaksa petugas bergerak memotong jalanan desa menuju titik kumpul warga. Petugas pemadam langsung menyemprotkan air bertekanan tinggi untuk menjinakkan bara api di dasar tumpukan jerami tebal.
Pasukan pemadam melokalisasi area secara ketat agar sisa-sisa lidah api tidak melompat ke atap permukiman padat penduduk. Tri Pomo, salah satu peternak yang kehilangan bangunannya, menyatakan kelegaannya dan memuji keberanian warga yang berani menerobos asap tebal.
“Alhamdulillah sapi saya bisa diselamatkan dari kobaran api. Kandang yang rata dengan tanah ini merupakan musibah tak terelakkan,” ujar Tri Pomo menatap sisa kayu kandangnya yang menghitam.
Dukuh Krasan, Nida Salma Hajaroh, memperingatkan seluruh warganya agar menghentikan kebiasaan membakar tumpukan sampah secara sembarangan. Ia menyoroti kondisi cuaca kemarau panjang yang membuat material organik di sekitar permukiman sangat rapuh dan mudah tersulut api.
Sementara itu, Joyoboyo Jogotirto, Ali Rozikin, memastikan insiden darurat ini membuktikan solidnya sistem pertahanan sipil di tingkat padukuhan. Ia menilai respons cepat warga memukul kentongan dan menyerbu lokasi sukses mencegah jatuhnya korban jiwa dalam tragedi ini.