Ekonomi Wonosobo, Pasar Tradisional, Berita Wonosobo Hari Ini
Home » Anomali Pasar Tradisional Wonosobo Saat Suro dan Mulud: Pembeli Kini Pilih Pedagang Keliling

Anomali Pasar Tradisional Wonosobo Saat Suro dan Mulud: Pembeli Kini Pilih Pedagang Keliling

by Malindra Anji
Listen to this article

Wonosobo, satumenitnews.com – Tingginya intensitas kegiatan masyarakat Wonosobo selama musim peringatan Suro, Mulud, dan Merti Dusun ternyata tidak serta-merta mengalirkan uang secara langsung ke lapak pedagang pasar tradisional eceran. Terdapat anomali perputaran roda perekonomian yang menunjukkan adanya pergeseran tajam dalam pola belanja masyarakat desa.

Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Wonosobo sebelumnya memproyeksikan adanya lonjakan transaksi yang signifikan. Ketua APPSI Wonosobo, Fikri Wijaya, menilai kearifan lokal seperti Suro dan Mulud memiliki daya ungkit ekonomi yang kuat bagi pasar tradisional.

“Peningkatannya cukup signifikan. Di momen-momen seperti ini, minimal pergerakannya tidak landai. Masyarakat mencari jajan pasar, buah-buahan, dan sayur-sayuran untuk dimasak, dan mereka lebih cenderung membelinya di pasar tradisional,” papar Fikri.

Baca juga :  Tembus Akses Sulit, Satreskrim Polres Wonosobo Salurkan Bantuan Penerangan untuk Warga Terpencil

Namun, proyeksi ini berbenturan keras dengan realita di lapangan. Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Pagi, Ir. Moch Yazid, secara lugas membantah adanya peningkatan transaksi eceran di lapak-lapak anggotanya. Menurutnya, kondisi perekonomian pasar tradisional saat ini justru sedang mengalami penurunan.

“Tidak ada peningkatan transaksi, biasa saja,” tegas Yazid saat ditanya mengenai dampak musim Muludan terhadap omzet pedagang Pasar Pagi.

Yazid membeberkan bahwa stagnasi ini bukan berarti masyarakat berhenti berbelanja, melainkan adanya perubahan cara konsumen bertransaksi. Saat ini, rantai distribusi telah terpotong oleh keberadaan pedagang keliling atau pedagang gerobak yang menerapkan strategi jemput bola langsung ke dusun-dusun.

“Sekarang pedagang keliling sudah jemput bola ke dusun. Jadi, masyarakat cenderung memesan langsung ke penjual gerobak itu untuk kebutuhan satu atau dua hari acara. Pelanggan cenderung sudah tidak belanja langsung ke mari (Pasar Pagi),” jelasnya.

Baca juga :  Danramil 03/Mojotengah Pimpin Karya Bakti Bersihkan Tanah Longsor yang Timpa Rumah Warga di Desa Gunturmadu

Meskipun pasar eceran lesu, roda perputaran uang sebenarnya tidak hilang, melainkan bergeser ke sektor grosir. Para pedagang keliling yang masuk ke desa-desa tersebut memusatkan aktivitas kulakan (belanja partai besar) mereka di Pasar grosir. Hal ini menciptakan anomali di mana pasar grosir mengalami perputaran uang yang masif, sementara pedagang eceran di pasar tradisional lainnya harus gigit jari melihat sepinya pembeli langsung.

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy