Wonosobo, satumenitnews.com – Sejak matahari belum sepenuhnya terbit pagi ini, Minggu (29/3/2026), Alun-Alun Wonosobo sudah tak menyisakan ruang kosong. Lautan manusia berdesakan, mengarahkan pandangan ke langit demi menyaksikan 45 balon udara tradisional raksasa bermotif nusantara yang perlahan mengangkasa secara bergantian. Ini adalah momen Puncak Festival Mudik 2026.
Suara gemuruh dan sorak-sorai pengunjung saling bersahutan setiap kali sebuah balon berhasil terbang tegak. Perhelatan tahun ini memang bukan sekadar tontonan visual biasa, melainkan unjuk gigi Wonosobo di kancah pariwisata internasional.
Ditemui di tengah hiruk-pikuk alun-alun, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Ia menyebut kesuksesan pagi ini adalah buah kerja keras dan kolaborasi lintas sektor yang sangat solid.
Fahmi merinci bahwa kelancaran acara didukung penuh oleh berbagai pihak, mulai dari Kementerian Perhubungan melalui Otoritas Bandara Wilayah 3 Surabaya, AirNav Indonesia, Badan Otorita Borobudur, kementerian terkait, hingga aparat gabungan TNI-Polri.
Menurutnya, penyelenggaraan kelima pasca-pandemi ini berkembang sangat eksponensial. Apalagi, tradisi menerbangkan balon kertas raksasa ini sudah mengantongi Hak Kekayaan Intelektual dari Kementerian Hukum RI sejak tahun 2025.
Ia sangat optimistis melihat manajemen event yang makin rapi, ajang kebanggaan warga Wonosobo ini sudah amat layak naik kelas ke level dunia.
Dampak langsung dari festival ini terbukti pada lonjakan drastis angka kunjungan wisata selama musim Lebaran. Sepanjang 22 hingga 28 Maret saja, lebih dari 300 ribu wisatawan tercatat masuk ke Wonosobo.
Pagi ini, panitia memperkirakan ada 40 hingga 50 ribu pasang mata yang memadati alun-alun. Menariknya, terselip sekitar 500 turis asing dari belasan negara seperti Prancis, Amerika Serikat, Palestina, India, hingga Afrika Selatan yang antusias membaur bersama warga lokal.
Terkait absennya sejumlah peserta dari luar negeri dalam festival kali ini, Fahmi lekas memberikan klarifikasi. Peserta dari kawasan Amerika Latin terpaksa batal hadir akibat kendala penerbangan imbas konflik Amerika Serikat dan Iran yang berujung pada penutupan Bandara Qatar. Namun, ia memastikan hal itu sama sekali tidak melunturkan magis dan kemeriahan festival.
Di sudut lain alun-alun, deretan stan UMKM dan pedagang kaki lima tampak sibuk melayani pembeli yang terus berdatangan. Kepala Bidang Pemasaran Disparbud Wonosobo, Fatonah Ismangil, membenarkan bahwa perputaran ekonomi lokal adalah salah satu target utama acara ini.
Fatonah yang juga bertindak sebagai Koordinator Festival Mudik 2026 menjelaskan, 45 balon yang tampil hari ini adalah karya terbaik hasil seleksi ketat Komunitas Balon Wonosobo. Sebelumnya, sekitar 1.200 balon baru telah lebih dulu menghiasi langit Wonosobo di 23 titik lokasi pada 9 kecamatan sejak sepekan lalu.
Fokus panitia sejak awal tidak hanya pada kemeriahan semata. Fatonah menegaskan tata kelola event dirancang sangat komprehensif, mulai dari rekayasa lalu lintas yang lancar hingga kebersihan lingkungan yang tetap terjaga di tengah lautan puluhan ribu pengunjung.
Kehadiran jajaran Forkopimda dan Direktur Utama AirNav Indonesia pagi ini turut mengukuhkan komitmen bersama. Bahwa dengan standar keselamatan penerbangan yang ketat, pariwisata terbukti ampuh menjadi lokomotif penggerak ekonomi warga lokal menuju visi Wonosobo sebagai pusat agribisnis dan pariwisata terkemuka di Jawa Tengah.