Wonosobo, satumenitnews.com – Puluhan peternak ayam mandiri di Kabupaten Wonosobo mulai memangkas biaya produksi. Langkah ini diambil setelah mereka mendapatkan kepastian regulasi terkait harga jagung subsidi peternak Wonosobo yang dipatok jauh di bawah harga pasar. Intervensi ini dilakukan demi menjaga keberlanjutan usaha unggas lokal di tengah fluktuasi harga pangan yang tidak menentu.
Sebanyak 40 peternak mikro ayam pedaging dan petelur kini dapat menghemat pengeluaran operasional mereka sebesar Rp1.000 per kilogram. Langkah nyata ini menjadi sangat krusial mengingat komponen pakan mentah menyerap hingga 70 persen dari total modal operasional peternakan unggas rakyat di wilayah Jawa Tengah.
Total komoditas pakan yang dikucurkan mencapai 20 ton jagung pipil kering melalui sinergi otoritas ketahanan pangan tingkat provinsi. Para pelaku usaha kecil dapat menebus komoditas tersebut dengan harga Rp5.500 per kilogram, berbanding terbalik dengan harga pasaran saat ini yang masih bertengger di kisaran Rp6.500 per kilogram.
Penyaluran ini menyasar langsung para pelaku usaha aktif yang terdata dalam Asosiasi Peternak Layer Wonosobo. Kebijakan dari sektor hulu ini sengaja diambil untuk meredam potensi lonjakan harga produk turunan seperti telur pangan dan daging ayam di wilayah eks-Karesidenan Kedu.
Strategi Harga Jagung Subsidi Peternak Wonosobo Guna Tekan Risiko Gulung Tikar
Tingginya harga bahan baku pakan di tingkat regional sering kali memaksa para pengusaha unggas skala kecil gulung tikar. Oleh karena itu, intervensi stabilitas pasokan di tingkat hulu ini diproyeksikan mampu menjaga ketahanan pangan asal hewan tetap aman bagi konsumen lokal.
Skema penekanan biaya ini dibiayai menggunakan anggaran APBD Provinsi Jawa Tengah yang disalurkan secara terarah. Langkah taktis tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing komoditas lokal agar tidak kalah dengan pasokan daging dari luar daerah.
Salah satu peternak asal Kecamatan Kertek, Eko Saputro, menegaskan bahwa tingginya ongkos pakan selama ini menjadi beban terberat bagi kelangsungan usahanya. Efisiensi biaya dari program ini memberikan dampak instan pada kelangsungan bisnisnya.
“Langkah ini sangat membantu kami karena ongkos pakan adalah pengeluaran terbesar bagi peternak,” kata Eko, Senin (13/7/2026).
Eko menambahkan bahwa skema subsidi ini memberikan kepastian usaha di tengah ketidakpastian harga pasar yang terus berubah. Dirinya berharap program serupa bisa berjalan secara berkala agar kelangsungan produksi harian tetap terjaga stabil.
Otoritas setempat melalui Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Wonosobo, Dwiyama Satyani Budayu, menyatakan bahwa stabilitas harga pangan adalah wujud komitmen nyata untuk menyokong sektor peternakan rakyat yang memegang peranan penting dalam struktur ekonomi perdesaan.
“Kami berharap langkah ini dapat sedikit meringankan biaya produksi yang harus ditanggung peternak,” ujar Dwiyama.
Pihaknya kini terus berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah untuk menambah kuota jatah pakan murah pada periode berikutnya agar jangkauan pelaku usaha unggas di Wonosobo semakin meluas.

