Wonosobo, satumenitnews.com – Dugaan perundungan terhadap seorang siswi kembali terjadi di wilayah Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, pada Rabu (11/3/2026). Peristiwa ini diduga kuat bermula dari aksi saling sindir di media sosial yang kemudian berujung pada kekerasan fisik antar pelajar.
Kasus tersebut mencuat ke publik dan menuai keprihatinan setelah sebuah rekaman video tersebar luas. Rekaman yang memperlihatkan aksi perundungan itu beredar cepat di berbagai platform media sosial serta sejumlah grup percakapan WhatsApp.
Dalam tayangan video itu, nampak beberapa siswi mengelilingi seorang siswi lain sembari melontarkan makian bernada keras. Ketegangan memuncak saat terjadi dorongan hingga kontak fisik. Mirisnya, sejumlah siswa lain yang berada di lokasi kejadian hanya diam menyaksikan tanpa berupaya melerai.
Berawal dari Dunia Maya
Konflik ini disinyalir berakar dari unggahan bernada sindiran di Instagram. Percakapan maya tersebut melibatkan seorang pelajar laki-laki berinisial R, siswi berinisial K, dan korban yang berinisial S.
Kepala MTs Ma’arif Kejajar, Alfiyah, membenarkan bahwa perselisihan antar siswanya itu bermula dari aktivitas di dunia maya yang memicu emosi.
“Awal mulanya dari catatan di Instagram. Ada sindiran-sindiran antara R dengan S, kemudian ada yang ikut membalas di media sosial. Informasi yang kami terima, awalnya memang saling sindir di media sosial, dari situ kemudian berkembang menjadi masalah antar anak-anak,” kata Alfiyah saat ditemui pada Kamis (12/3/2026) lalu.
Kronologi Kekerasan Usai Jam Sekolah
Alfiyah menjelaskan bahwa korban S merupakan siswi kelas IX yang berasal dari kelas jauh di wilayah Sembungan. Saat insiden terjadi, korban sedang berada di sekolah induk untuk mengikuti kegiatan ujian atau gladi.
Aksi perundungan tersebut berlangsung setelah seluruh kegiatan belajar mengajar di sekolah selesai. Korban kemudian dibawa oleh sekelompok pelajar dari berbagai sekolah menuju suatu lokasi di wilayah Kejajar.
Di tempat tersebut, korban menerima sejumlah perlakuan tidak manusiawi. Selain mendapat makian, korban dipaksa memakan pisang bekas gigitan pelaku dan didorong hingga terjatuh.
Tindakan tersebut semakin parah ketika seorang pelajar lain yang datang mengendarai sepeda motor disebut sempat melindas kaki korban, sebelum akhirnya komplotan pelajar tersebut membubarkan diri.
Langkah Cepat Otoritas Setempat
Merespons insiden kekerasan ini, jajaran Kecamatan Kejajar langsung bergerak cepat mengadakan rapat koordinasi lintas sektoral untuk menentukan langkah penanganan.
“Tadi pagi saya kumpulkan semua kepala SMP, Korwil Pendidikan, KUA, dan PGRI di sini. Kami mencoba mengondisikan supaya persoalan ini bisa ditangani bersama,” tegas Camat Kejajar, Chaerul Anam.
Pemerintah kecamatan juga telah merancang program edukasi pencegahan perundungan yang akan digulirkan secara masif. Rencananya, edukasi ke sekolah-sekolah ini akan dilaksanakan setelah perayaan Lebaran mendatang agar kejadian serupa tidak terulang.
Saat ini, kasus dugaan perundungan tersebut sudah dilaporkan kepada pihak kepolisian. Kecamatan Kejajar menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat penegak hukum, sembari meminta pihak sekolah untuk terus melakukan pendampingan psikologis kepada para siswa yang terlibat.
Koramil dan Polsek Wadaslintang Mengajak Perangi Aksi Bulliying dan Perundungan Anak
Polisi Tunggu Hasil Otopsi Bocah 9 Tahun Diduga Jadi Korban Perundungan di Wonosobo
Perundungan di Wonosobo: Hasil Otopsi Jenazah TA Jadi Kunci Penyidikan
Hari Ini Isu Dugaan Perundungan TA, Siswa SD di Kertek Bakal Terang Benderang