Wonosobo, satumenitnews.com – Sebuah fakta mengkhawatirkan menyeruak dari pemaparan Senior Manager PLN Indonesia Power Unit Pembangkitan (UP) Mrica, Nazrul Very Andhi. Di balik tenang permukaan air, Waduk Mrica atau Bendungan Panglima Besar Soedirman yang menjadi tumpuan energi dan irigasi di Jawa Tengah bagian selatan kini dalam kondisi sekarat.
Nazrul mengungkapkan hal tersebut saat menghadiri agenda penanaman pohon bersama komunitas Ojol Wonosobo dan Yayasan Jatubu di kawasan Telaga Menjer, Senin (19/1/2026). Ia menyebut daya tampung waduk yang berlokasi di Banjarnegara tersebut menyusut drastis akibat laju sedimentasi waduk yang tak terkendali dari hulu Sungai Serayu.
Data terbaru menunjukkan komposisi isi waduk sangat timpang. Waduk Mrica yang seharusnya berfungsi menampung air, saat ini kapasitas tampungan airnya tercatat tinggal satu digit.
“Kondisi Mrica saat ini sudah sangat kritis. Efektif volume air yang bisa kita manfaatkan tinggal 9 persen, sementara 91 persen sisanya sudah penuh sesak oleh endapan lumpur,” ungkap Nazrul di sela-sela kegiatan.
Parkiran Lumpur Raksasa
Kondisi kritis ini tidak terjadi dalam semalam. Nazrul menjelaskan bahwa Waduk Mrica kini seolah menjadi tempat parkir terakhir bagi material erosi yang terbawa aliran Sungai Serayu. Sungai terpanjang di Jawa Tengah bagian selatan ini melintasi lima kabupaten, mulai dari Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, hingga bermuara di Cilacap.
Ia menyoroti kawasan Pegunungan Dieng dan wilayah Wonosobo sebagai penyumbang terbesar kerusakan di hulu. Hilangnya vegetasi di wilayah tangkapan air menyebabkan tanah dengan mudah tergerus hujan dan berakhir menjadi sedimentasi di hilir.
“Lumpur ini tidak muncul begitu saja. Ini adalah akumulasi dari hulu yang terus tergerus. Kalau hulu tidak segera diperbaiki, Mrica hanya akan menjadi hamparan tanah, bukan lagi bendungan,” tegasnya.
Jika kondisi hulu terus rusak, dampaknya akan menjalar luas. Risiko terbesar bukan hanya pada terganggunya operasional pembangkit listrik, tetapi juga ancaman nyata terhadap ketahanan pangan nasional.
“Dampaknya sistemik. Kalau waduk ini mati, irigasi teknis untuk ribuan hektare sawah di lima kabupaten dari Banjarnegara sampai Cilacap akan terhenti. Ini ancaman serius bagi lumbung pangan Jawa Tengah,” tambah Nazrul.
Menjer Mulai Tercekik
Tak hanya Mrica, ancaman serupa mulai mengintai Telaga Menjer di Kecamatan Garung, Wonosobo. Meski sumber airnya masih tergolong alami dari mata air Gunung Sindoro, pantauan PLN Indonesia Power mencatat adanya peningkatan volume erosi yang masuk ke telaga vulkanik tersebut sepanjang tahun 2025.
Nazrul menilai situasi ini cukup mendesak karena material lumpur mulai mengganggu area operasional pembangkit PLTA Garung.
“Di Menjer, tren erosi mulai terasa mengganggu. Tahun 2026 ini, kami terpaksa memprogramkan pengerukan atau dredging di area intake (pintu air) agar keandalan mesin pembangkit tetap terjaga,” jelasnya.
Namun, ia menyadari langkah teknis pengerukan hanyalah solusi sementara atau “obat penahan sakit” jika erosi tanah dari tebing-tebing di sekitar telaga tidak berhenti. Karena itu, Nazrul mengapresiasi langkah elemen masyarakat yang mulai sadar untuk melakukan penanaman kembali.
Kolaborasi dengan komunitas seperti ojol dan Jatubu dinilai vital untuk memperkuat sabuk hijau di kawasan hulu. Penanaman tanaman keras yang dikombinasikan dengan perkebunan kopi di area tebing dinilai sebagai solusi jalan tengah yang efektif.
“Akar tanaman kopi dan pohon keras akan mengikat tanah agar tidak longsor ke sungai, sementara masyarakat tetap mendapatkan nilai ekonomi dari hasil panen tanpa harus menebang pohonnya. Ini model konservasi yang harus kita perbanyak,” pungkas Nazrul.