satumenitnews.com – Sejak di bangku sekolah, memori kolektif kita dijejali oleh sebuah legenda heroik: Aji Saka, seorang ksatria sakti, menciptakan aksara Jawa yang kita kenal dengan Hanacaraka. Huruf-huruf tersebut konon lahir dari kisah tragis pertarungan dua abdinya, Dora dan Sembada.
Kisah ini begitu melegenda hingga nyaris bergeser dari sekadar dongeng menjadi “fakta” sejarah yang diamini masyarakat. Namun, jika kita mau membedah literatur kuno lewat kacamata sains, paleografi (ilmu tulisan kuno), dan sejarah empiris, narasi Aji Saka ini jelas sebuah bentuk pembelokan sejarah.
Mari kita bedah secara tegas mana yang mitos dan mana yang merupakan realita sejarah.
MITOS 1: Aksara Jawa Diciptakan oleh Satu Orang (Aji Saka)
FAKTA: Secara linguistik dan paleografi, tidak ada satu pun aksara di dunia yang diciptakan oleh satu tokoh dalam satu waktu. Aksara Jawa adalah hasil evolusi ribuan tahun. Rentetannya sangat jelas: berakar dari aksara Brahmi (India), masuk ke Nusantara menjadi aksara Pallawa (era Tarumanegara/Kutai), menyusut dan beradaptasi menjadi aksara Kawi (Jawa Kuno), hingga akhirnya matang menjadi aksara Jawa Baru. Ini adalah karya kolektif peradaban, bukan sihir satu malam seorang ksatria.
MITOS 2: Hanacaraka Lahir dari Pertarungan Dora dan Sembada
FAKTA: Kisah Hanacaraka, Datasawala, Padhajayanya, Magabathanga murni merupakan karya sastra dan alegori. Dongeng ini digubah jauh di kemudian hari sebagai mnemonic device (jembatan keledai) atau alat bantu hafal. Fungsinya sangat brilian secara pedagogis: mempermudah masyarakat menghafal susunan 20 huruf baku aksara Jawa, sekaligus menyisipkan doktrin moral tentang kesetiaan mutlak seorang abdi kepada rajanya.
MITOS 3: Bentuk Aksara Jawa Sudah Baku Sejak Zaman Kuno
FAKTA: Jika kita mencari titik temu kapan aksara Jawa benar-benar dikodifikasi menjadi 20 huruf baku (dentawyanjana) seperti sekarang, pandangan kita harus mengarah pada era keemasan Mataram Islam, tepatnya di bawah kepemimpinan Sultan Agung (1613-1645).
Sultan Agung adalah seorang visioner budaya. Di era pemerintahannyalah, tata negara, budaya, dan literasi Jawa distandardisasi besar-besaran secara politis. Beliau melebur kalender Saka dan Hijriah menjadi Kalender Jawa, menegaskan tingkatan bahasa (undha-usuk), dan sangat masuk akal secara historis bahwa standardisasi bentuk aksara Jawa dilakukan di masa ini untuk keperluan administrasi keraton dan penulisan babad.
Berhenti Mewariskan Sejarah yang Keliru
Mengkritisi mitos Aji Saka bukan berarti kita antiobudaya atau tidak menghargai peninggalan leluhur. Justru, dengan menempatkan sejarah pada porsinya yang empiris, kita sedang menyelamatkan narasi masa lalu.
Mengakui bahwa Hanacaraka adalah puncak dari evolusi panjang dan buah dari kebijakan kultural cerdas di era Sultan Agung, membuat kita semakin bangga pada kecerdasan literasi bangsa ini. Sudah saatnya kita mengajarkan sejarah yang berpijak pada data, bukan sekadar meninabobokan generasi penerus dengan dongeng belaka.
Oleh: Anji