Misteri Sungai Kering yang Hilang di Jalibi, Wajah Ganda Watumalang Sambut HPN 2026

Listen to this article

Wonosobo, satumenitnews.com – Kesibukan tak biasa mewarnai Desa Binangun, Kecamatan Watumalang, Senin (2/2/2026). Warga dan panitia tampak berpacu dengan waktu, mempersiapkan panggung besar untuk perhelatan yang akan digelar lusa.

Desa di punggung pegunungan ini dipercaya menjadi tuan rumah puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) Kabupaten Wonosobo tahun 2026 yang jatuh pada Rabu (4/2/2026).

Camat Watumalang, Oni Wiyono, turun langsung mengecek persiapan di lapangan. Berdiri dengan latar panorama Gunung Sindoro dan Sumbing yang tertutup mendung, pandangannya tak hanya tertuju pada lokasipenanaman pohonn, tapi juga pada hamparan aspal mulus di bawah kakinya.

Bagi Oni, HPN 2026 di wilayahnya membawa misi ganda: pelestarian lingkungan dan perayaan atas bebasnya warga dari isolasi infrastruktur buruk.

“Besok lusa, tanggal 4 Februari adalah puncaknya. Agenda utamanya penghijauan. Ini harga mati karena kontur wilayah kami pegunungan, risiko longsor harus kita kunci sejak dini,” tegas Oni Wiyono di lokasi kegiatan.

Namun, di balik narasi ekologi itu, ada cerita dramatis tentang Jalur Lintas Binangun (Jalibi), akses vital tempat acara ini berlangsung.

Hikayat Jalan Tani dan Sungai Kering

Belum lama berselang, melintasi jalur penghubung Desa Lumajang dan Desa Binangun adalah ujian kesabaran.

Kondisi jalan yang hancur lebur memunculkan metafora satir di kalangan warga. Mereka menyebut jalur ini sebagai “sungai asat” atau sungai kering, karena permukaannya hanya berupa tumpukan batu makadam tajam tanpa air.

“Dulu ini statusnya jalan tani. Kondisinya makadam, bebatuan tak beraturan. Saking parahnya, warga mengibaratkannya seperti sungai kering,” kenang Oni.

Julukan itu kini terkubur aspal panas. Respons Pemerintah Kabupaten Wonosobo mengubah wajah jalur sepanjang 3 kilometer yang membelah Dusun Sumbersari, Klepu, hingga Cindul tersebut.
Transformasi ini radikal. Dari sekadar jalur angkut hasil bumi, Jalibi kini menjadi nadi utama yang memangkas jarak tempuh ke pusat kota Wonosobo hingga 2 kilometer.

Jalan yang Booming

Wajah baru Jalibi ternyata membawa efek domino. Menjelang puncak HPN 2026, jalur ini justru sudah lebih dulu riuh oleh aktivitas lain.

Jalan mulus dan pemandangan eksotis tiga gunung (Sindoro, Sumbing, Bisma) mengubah Jalibi menjadi magnet sosial baru. Anak muda Wonosobo menyerbunya sebagai spot nongkrong hits.
“Sekarang Jalibi booming. Tiap sore penuh anak muda ngopi sambil menikmati pemandangan,” ujar Oni sembari menunjuk bahu jalan yang masih kosong siang ini.

Keberadaan Penerangan Jalan Umum (PJU) yang kini terpasang rapi kian melengkapi transformasi tersebut, mengusir kesan angker yang dulu menyelimuti kawasan ini saat matahari terbenam.
Di sela peninjauan akhir jelang kedatangan para insan pers lusa, Oni menyisipkan pesan serius. Ia tak ingin euforia infrastruktur dan keramaian ini merusak apa yang sudah dibangun.

“Dengan ramainya pengunjung, saya titip pesan: jaga keamanan dan ketertiban. Mari rawat bersama agar Jalibi tetap nyaman untuk semua,” pungkasnya.

Related posts

Sinergi TNI – Polri, Kodim Berikan Dukungan Penuh Pelaksanaan Operasi Keselamatan Candi 2026

Polres Wonosobo Laksanakan Kegiatan Penanaman Bibit Pohon di Gunung Prau

Filosofi Jamur dan Seni Mendengar Suara Warga di Tanah Dieng

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Read More