Wonosobo, satumenitnews.com – Momen Lebaran di Wonosobo rasanya tak pernah lengkap tanpa memandang warna-warni di langit pagi. Tahun ini, kerinduan para pemudik dan warga lokal akan tradisi itu siap terbayar lunas.
Pemerintah Kabupaten Wonosobo memastikan gelaran Festival Mudik Balon Udara 2026 kembali hadir menyapa masyarakat mulai 22 hingga 29 Maret mendatang.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo, Fahmi Hidayat, menyadari betul bahwa festival ini lebih dari sekadar tontonan visual. Baginya, ini adalah kepingan warisan budaya yang merawat kebersamaan warga.
Dalam obrolan bertajuk Mudik Aman, Wonosobo Nyaman di Media Center Diskominfo, Rabu (4/3/2026), Fahmi mengajak siapa saja yang pulang kampung untuk bangun lebih pagi.
Atraksi memukau ini akan dimulai serentak pukul 06.00 WIB, waktu yang paling pas untuk melihat balon mengembang sempurna di tengah sejuknya udara pagi Wonosobo.
Pemkab sengaja membagi keriuhan ini ke 23 titik desa yang berbeda. Harapannya jelas, agar senyum kebahagiaan dan perputaran uang tidak hanya menumpuk di pusat kota.
Pelaku UMKM lokal, mulai dari kedai-kedai kuliner pinggir sungai hingga penyedia jasa travel wisata yang bersiap menyambut tamu, bisa ikut meraup berkah Lebaran.
Puncaknya, Alun-Alun Wonosobo akan menjadi lautan manusia pada 29 Maret 2026. Mengusung semangat Tradition in The Sky and Celebration on The Ground, puluhan ribu pasang mata bersiap menyaksikan harmoni tradisi di jantung kota.
Tentu saja, keindahan tradisi ini harus dibarengi dengan tanggung jawab yang besar. Langit Wonosobo adalah ruang berbagi, termasuk dengan pesawat terbang komersial yang melintas di atasnya.
Karena itu, Kepala Disperkimhub Wonosobo, Agus Susanto, kembali mewanti-wanti soal aturan main yang tertuang tegas dalam Surat Edaran Bupati Nomor 000.1.10/430 Tahun 2026.
Aturannya sangat mengutamakan keselamatan bersama. Setiap balon udara wajib diikat erat dengan minimal tiga tali penambat. Ketinggian mengudaranya pun tidak boleh lebih dari 150 meter dari tanah.
Ukuran balon ikut dibatasi dengan tinggi maksimal 7 meter dan lebar 4 meter. Satu hal yang pantang dilanggar oleh komunitas adalah larangan keras menggunakan api, petasan, atau bahan berbahaya lainnya.
Waktu penerbangan hanya diizinkan dari matahari terbit hingga terbenam. Lokasinya pun harus di area lapang yang jauh dari permukiman padat atau stasiun pengisian bahan bakar.
Sebagai bentuk ketertiban, panitia di setiap titik desa diwajibkan melapor ke pihak kepolisian atau pemerintah daerah paling lambat tiga hari sebelum menerbangkan karya mereka.
Agus memastikan jajarannya terus menjalin komunikasi intensif dengan AirNav Indonesia. Pesannya tegas, tradisi tetap lestari, namun keselamatan penerbangan nasional adalah prioritas utama.
Ia juga berpesan kepada masyarakat luas agar tidak ragu melapor ke petugas jika melihat ada balon yang terlepas dan terbang bebas tanpa kendali.
Bagi Anda yang sudah merencanakan agenda libur Lebaran, berikut adalah daftar lengkap 23 lokasi pelaksanaan Festival Mudik Balon Udara Wonosobo 2026:
- Gemblengan (22 Maret 2026)
- Wonolelo (22 Maret 2026)
- Lumajang (22 Maret 2026)
- Tanjungsari Land (22–25 Maret 2026)
- Kembaran (22–25 Maret 2026)
- Butuh (22–23 Maret 2026)
- Semberdalem (23 Maret 2026)
- Karangluhur (23–24 Maret 2026)
- Semayu (23–24 Maret 2026)
- Mendala, Bumireso (23–24 Maret 2026)
- Simbang (23–26 Maret 2026)
- Mudal (24 Maret 2026)
- Candiasan (24–26 Maret 2026)
- Mirombo (25–26 Maret 2026)
- Sukoharjo (25 Maret 2026)
- Mangunrejo (25 Maret 2026)
- Bojasari (25–26 Maret 2026)
- Kalibeber (26 Maret 2026)
- Lamuk (26–28 Maret 2026)
- Gondang (27–28 Maret 2026)
- Tempelsari (27–28 Maret 2026)
- Tumenggungan (28 Maret 2026)
- Puncak Festival di Alun-Alun Wonosobo (29 Maret 2026)