Menelusuri Jejak Rasa Soto Ayam Moro Seneng Temanggung, Legenda Kuliner Pasar Sejak 1968

Listen to this article

Temanggung, satumenitnews.com – Di tengah hiruk-pikuk Pasar Parakan, terdapat sebuah permata kuliner tersembunyi (hidden gem) yang telah melintasi zaman. Namanya Soto Ayam Moro Seneng. Sesuai dengan filosofi namanya dalam bahasa Jawa “Moro Seneng” yang berarti “Datang (langsung) Senang” warung sederhana ini menjanjikan kebahagiaan bagi siapa saja yang singgah untuk mencicipi semangkuk soto hangatnya.

Warisan Ibu Suyati: Dari Rp 20,- Hingga Legenda Pasar

Jauh sebelum dikenal sebagai salah satu kuliner wajib di Parakan, soto ini dirintis oleh Ibu Suyati Umar pada tahun 1968. Kala itu, seporsi soto masih dihargai Rp 20,- (dua puluh rupiah). Sebuah harga yang kini menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah ekonomi dan kuliner di Temanggung.

Perjalanan lokasinya pun penuh dinamika. Bermula dari lapak sederhana di pertigaan jalan, usaha ini sempat berpindah ke depan Pasar Parakan (dekat Toko Kuritani), sebelum akhirnya menetap di lokasi ikonik yang sekarang, menyatu dengan denyut nadi pasar tradisional.

Kini, tongkat estafet rasa dipegang oleh generasi kedua, Ibu Erna Fitria. Sebagai putri bungsu (ragil) dari Ibu Suyati, Erna memilih untuk melestarikan resep sang Ibu setelah kakaknya memutuskan tidak terjun ke usaha ini. Di tangan Erna, keaslian rasa yang dibangun sejak tahun 60-an tetap terjaga utuh.

Rahasia Kelezatan: “Ngaldu” dan Tanpa Santan

Apa yang membuat Soto Moro Seneng bertahan lebih dari setengah abad? Jawabannya ada pada konsistensi.

Soto ini mengusung gaya soto bening tanpa santan. Bagi pelanggan setia, kekuatan utamanya adalah kuah yang “ngaldu” banget ringan, segar, namun sarat akan sari pati ayam kampung. Tidak heran jika beredar kabar di kalangan pecinta kuliner bahwa mendiang Pak Bondan Winarno, ikon kuliner “Mak Nyus”, pernah merekomendasikan kesegaran soto ini. Meski kunjungan tersebut menjadi legenda urban, label “Mak Nyus” sudah kadung melekat di benak warga lokal.

Ciri khas penyajiannya pun unik dan tidak pernah berubah:
  • Perkedel “Celup”: Berbeda dengan soto lain yang memisahkan perkedel, di sini perkedel kentang sudah langsung disajikan di dalam mangkuk (include), menyerap kuah kaldu yang gurih.
  • Ayam Kampung Asli: Tekstur dagingnya khas—sedikit lebih alot dibanding ayam negeri, namun gurihnya tiada lawan.
  • Lauk Pendamping: Tahu dan tempe bacem, serta gorengan yang seringkali disajikan masih hangat karena perputaran pesanan yang cepat.

Sensasi Makan di Jantung Pasar

Menikmati Soto Moro Seneng bukan sekadar urusan perut, tapi juga pengalaman nostalgia. Lokasinya yang berada di area pasar menghadirkan suasana yang otentik.

Pelanggan harus siap dengan tempat yang terbatas. Di jam-jam sibuk, budaya sharing table (berbagi meja) dengan orang asing adalah hal lumrah. Tanpa pendingin ruangan (AC), hanya berbekal kipas angin, sensasi menyantap soto panas sambil berkeringat justru menjadi kenikmatan tersendiri bagi para pemburu kuliner sejati.

Informasi Praktis

Bagi Anda yang ingin membuktikan sendiri kelegendarisan rasanya, berikut detailnya:

  • Jam Buka: Pukul 08.00 WIB hingga sehabisnya (biasanya sekitar pukul 14.00 – 15.00 WIB).
  • Harga (Estimasi awal 2026):
    • Soto Ayam (Nasi + Perkedel): Rp 13.000,-
    • Potongan Ayam Kampung: Rp 10.000 – Rp 12.000,-
    • Menu Lain: Tahu dan Tempe Bacem: Rp 3.000.

Soto Ayam Moro Seneng Parakan adalah bukti bahwa di tengah gempuran kuliner kekinian, rasa yang jujur dan sejarah yang panjang akan selalu memiliki tempat istimewa di hati (dan lidah) pelanggannya.

Related posts

Dimsum Enak yang Selalu Habis, Antara Rasa Kecewa dan Penasaran di Kedai Pinggir Kali Wonosobo

Timlo Kedai Pinggir Kali, Jawaban Hangat Wonosobo di Tengah Cuaca Ekstrim

Ribuan Transaksi di Festival Kuliner Legend Wonosobo, Panitia Sempat Panik Pengunjung Sepi

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Read More