Wonosobo, satumenitnews.com – Euforia menyambut hangatnya kumpul keluarga pada momen Lebaran tahun ini harus tetap diiringi kewaspadaan ekstra. Pasalnya, kondisi cuaca di wilayah Kabupaten Wonosobo yang didominasi pegunungan masih menyimpan potensi ancaman bencana hidrometeorologi.
Hal tersebut terungkap dalam wawancara khusus bersama jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonosobo di ruang rapat kantor BPBD setempat, Jumat (13/3/2026).
Kesiapsiagaan menjadi fokus utama mengingat mobilitas masyarakat akan melonjak tajam menjelang Idulfitri.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Wonosobo, Sumekto Hendro Kustanto, mengingatkan bahwa tingginya curah hujan merupakan faktor utama yang memicu kerawanan di sejumlah jalur perlintasan pemudik maupun wisatawan.
“Menjelang periode Lebaran ini, curah hujan di wilayah kita masih cukup tinggi. Tentu ini berpotensi memicu kejadian bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor di area perbukitan, banjir lokal di wilayah dengan drainase kurang optimal, hingga angin kencang yang bisa menumbangkan pohon,” ungkap Sumekto.
Catatan BPBD menunjukkan hingga 1 Maret 2026 saja sudah terjadi 42 kejadian bencana. Tren tahunan ini menuntut kewaspadaan tinggi, mengingat pada 2024 tercatat 303 kejadian dan 243 kejadian pada 2025.
Sinergi Lintas Sektor dan Pemetaan Jalur Rawan
Demi memberikan rasa aman dan nyaman, BPBD tidak bergerak sendiri. Upaya mitigasi dilakukan secara masif melalui koordinasi lintas sektor bersama TNI, Polri, dan pemerintah kecamatan.
“Kami juga membuka Posko Lebaran di Alun-Alun Wonosobo. Ada 15 personel TRC, 15 personel Damkar, dan dibantu sekitar 1.079 relawan kebencanaan yang siap siaga di lapangan untuk memastikan kelancaran arus mudik,” tambah Sumekto.
Sekretaris Dinas BPBD Wonosobo, Sarwono, yang turut hadir dalam pertemuan tersebut menyoroti pemetaan wilayah rawan pergerakan tanah. Tahun ini, potensi longsor dan angin kencang mendominasi wilayah Kejajar, Sapuran, Wadaslintang, serta kawasan kota Wonosobo.
“Pemudik harus ekstra hati-hati, apalagi kalau melintasi ruas rawan seperti jalan Tambi-Temanggung, Dieng-Wonosobo, Sapuran-Kepil, Watumalang-Dieng, dan Wadaslintang-Kebumen. Kurangi kecepatan saat hujan lebat turun,” pesan Sarwono.
Imbauan Keselamatan dan Peran Masyarakat
Mengingat karakteristik jalanan Wonosobo yang berkelok, menanjak, dan menurun curam, Sarwono menekankan pentingnya persiapan fisik kendaraan sebelum menembus jalur pegunungan. Fungsi rem, kelayakan ban, dan lampu harus dipastikan dalam kondisi prima.
Jika sewaktu-waktu terjadi kendala akses akibat bencana longsor atau pohon tumbang, pemudik disarankan menggunakan jalur alternatif seperti jalan Kertek-Selomerto atau Jalan Lingkar Selatan. Imbauan serupa ditujukan bagi ribuan wisatawan yang diprediksi memadati kawasan Dieng.
Lebih jauh, pemerintah menggandeng peran serta masyarakat sebagai garda terdepan dalam mengurangi risiko fatalitas. Warga diminta lebih peka mengenali tanda awal pergerakan tanah di sekitar tempat tinggalnya.
“Peran masyarakat itu sangat krusial. Kenali tanda awalnya, seperti munculnya retakan tanah di halaman atau lereng yang makin melebar usai hujan deras. Kalau melihat pohon, tiang listrik, atau pagar yang tiba-tiba miring, itu indikasi kuat adanya pergerakan tanah,” papar Sarwono.
Apabila situasi darurat terjadi, warga diimbau tidak panik dan segera menjauh dari lokasi tebing atau lereng. Masyarakat dapat langsung melapor ke pemerintah desa setempat atau menghubungi Call Center TRC BPBD di nomor 0813-1111-6976 dan Call Center Damkar di 0813-8911-3113 untuk penanganan cepat.
Pemkab Wonosobo Siapkan 35 Titik CCTV Publik Pantau Arus Mudik Lebaran 2026
Kadisparbud Wonosobo Klarifikasi Isu Jalur Dieng Putus, Pastikan Rute Utama Aman Dilalui