Ironi Kaos Oranye di Jembatan Tlogo, Dejavu Kelam Skandal Sampah Bogowonto 2017

Listen to this article

Wonosobo, satumenitnews.com – Pemandangan kontradiktif tersaji di Jembatan Tlogo, Kecamatan Garung, pada Selasa (20/1/2026) pagi. Di bawah sorot matahari pagi, seorang pria terekam kamera sedang membuang puluhan kantong sampah ke aliran sungai. Yang membuat miris, pelaku mengenakan kaos berwarna oranye, sebuah warna yang di negeri ini kadung identik dengan seragam relawan penanggulangan bencana.

Sosok dalam video tersebut adalah Suparjo, petugas kebersihan desa yang menggunakan mobil Kijang operasional milik Mizumi Villa. Penampilannya yang sekilas menyerupai garda terdepan penyelamat lingkungan justru melakukan tindakan yang menjadi musuh utama ekosistem sungai. Sebuah simbol ironi yang menampar wajah upaya konservasi di Wonosobo.

Dejavu Kelam 2017

Insiden di Jembatan Tlogo ini seolah memutar ulang rekaman kelam yang pernah mengguncang Wonosobo hampir satu dekade silam. Ingatan publik dipaksa kembali ke akhir Agustus 2017, saat sebuah truk terekam menumpahkan muatan sampah secara massal ke Jembatan Sungai Bogowonto, Desa Pecekelan, Kecamatan Sapuran.

Kala itu, video pembuangan sampah di Sapuran menjadi isu nasional dan memicu kecaman luas dari berbagai pegiat lingkungan. Kini, di tahun 2026, pola yang sama terulang: jembatan sebagai titik eksekusi dan sungai sebagai korban, hanya berbeda lokasi dan skala kendaraan. Seolah tidak ada pelajaran yang diambil dari sejarah panjang kerusakan daerah aliran sungai di wilayah pegunungan ini.

Sungai Dianggap Tempat Sampah Raksasa

Dalam klarifikasinya di Kantor Desa Tlogo, Suparjo mengakui perbuatannya didasari oleh kekhilafan dan ego sesaat. Namun, kalimat yang ia lontarkan menggambarkan betapa dangkalnya pemahaman tentang fungsi sungai.

“Mungkin rasanya seperti menganggap sungai itu tempat sampah raksasa,” ujar Suparjo memberikan analogi atas tindakannya.

Pernyataan ini terdengar semakin menyedihkan ketika disandingkan dengan atribut oranye yang ia kenakan saat beraksi. Warna yang seharusnya mewakili semangat mitigasi dan perlindungan, justru dipakai saat mengotori sumber air yang vital bagi masyarakat hilir.

Namun begitu, pada saat klarifikasi di kantor Desa Tlogo ia mengaku bukan merupakan anggota relawan bencana.

Respons Tegas Camat Garung

Camat Garung, Priyo Cahyono, yang menyadari potensi bahaya dari perilaku ini segera mengambil tindakan taktis. Dalam perspektif penanggulangan bencana, membuang sampah ke sungai adalah tindakan mengundang banjir, terutama di musim penghujan.

Priyo tidak sekadar memberikan imbauan, melainkan instruksi fisik. Begitu laporan masuk, ia memerintahkan pelaku untuk turun kembali ke sungai dan memungut sampah yang telah dibuangnya pagi itu.

“Saat itu juga kami perintahkan mereka untuk segera mengambil kembali sampah tersebut, supaya lingkungan kita tetap terjaga,” tegas Priyo.

Langkah pembersihan ulang ini menjadi simbol bahwa kesalahan terhadap alam harus dibayar tunai. Pihak kecamatan juga berencana mengumpulkan para pengelola sampah untuk memberikan edukasi ulang, agar mentalitas “sungai sebagai tempat sampah” tidak mewabah dan menciptakan bencana ekologis yang lebih besar di kemudian hari.

Kejadian ini menjadi pengingat keras bahwa seragam atau atribut hanyalah kain pembungkus. Tanpa kesadaran ekologis yang mumpuni, siapa pun bisa menjadi aktor perusak lingkungan, bahkan mereka yang bertugas mengelolanya.

Related posts

Fesyen Bencana di Jembatan Tlogo: Atribut Korel Dipakai Kotori Sungai, BPBD Meradang

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Read More