Wonosobo, satumenitnews.com – Warna oranye yang menyala di Jembatan Tlogo pada Selasa (20/1/2026) pagi itu seharusnya menjadi simbol harapan, bukan kehancuran. Namun, video viral yang memperlihatkan seorang pria membuang sampah ke Sungai Serayu mengenakan kaos bertuliskan Korel (Komunitas Relawan) telah memicu perdebatan panas. Insiden ini tak hanya membangkitkan trauma ekologis skandal Jembatan Bogowonto 2017, tetapi juga menampar wajah kemanusiaan para pegiat penanggulangan bencana.
Publik dibuat bingung dan marah. Bagaimana bisa seseorang dengan atribut yang identik dengan penyelamatan lingkungan justru menjadi aktor utama pencemaran? Spekulasi liar pun berkembang, mempertanyakan integritas komunitas relawan di Wonosobo.
Bukan Relawan, Hanya Fans Kostum
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonosobo bergerak cepat meredam bola liar ini. Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Wonosobo, Sumekto Hendro Kustanto, langsung melakukan penelusuran bersama pihak kecamatan. Fakta yang ditemukan cukup melegakan bagi komunitas, namun tetap memalukan bagi pelaku.
“Tadi kami bersama Pak Camat sudah memastikan bahwa yang bersangkutan bukanlah relawan kemanusiaan,” tegas Sumekto.
Pernyataan ini menjadi garis demarkasi yang jelas: pelaku hanyalah warga biasa yang mengenakan “baju kebesaran” relawan tanpa memiliki jiwa relawannya. Sumekto tak menampik rasa kecewanya. Tindakan oknum tersebut dinilai telah melukai hati ribuan orang yang selama ini berjibaku tanpa pamrih menjaga alam.
“Penggunaan baju Korel tersebut sangat mencederai seluruh relawan yang ada di Wonosobo, bahkan mungkin di Indonesia. Karena relawan itu sejatinya adalah pejuang kemanusiaan yang betul-betul peduli terhadap lingkungan,” imbuhnya dengan nada prihatin.
Simbol Kebanggaan yang Disalahgunakan
Lantas, mengapa atribut sakral bagi relawan penanggulangan bencana ini bisa dipakai sembarang orang? Sumekto memberikan pandangan yang cukup filosofis namun realistis. Menurutnya, fenomena ini mirip dengan fanatisme dalam dunia olahraga atau bela diri.
“Analoginya seperti di bela diri; orang mungkin memakai kaos karate atau pencak silat meskipun dia bukan atlet, hanya karena dia suka,” jelas Sumekto.
Hingga saat ini, memang tidak ada regulasi kaku yang melarang masyarakat umum mengenakan kaos bernuansa oranye atau bertuliskan komunitas relawan. Hal ini dianggap sebagai bentuk ekspresi kecintaan atau kebanggaan masyarakat terhadap sosok relawan itu sendiri.
“Secara alami, jika sesuatu itu dicintai, pasti akan banyak pengikutnya yang ingin meniru atau menggunakan atributnya,” tambahnya.
Sayangnya, “kebanggaan” yang dimaksud Sumekto kali ini jatuh ke tangan yang salah. Di Jembatan Tlogo, kaos itu tidak dipakai saat mengevakuasi korban atau membersihkan lumpur, melainkan saat mengotori sungai dengan egoisme pribadi.
Konsolidasi Total Relawan
Insiden ini menjadi alarm keras bagi BPBD Wonosobo. Peristiwa di Jembatan Tlogo yang mengingatkan publik pada kasus truk sampah Bogowonto 2017 ini memaksa otoritas untuk merapatkan barisan. Isu lingkungan kini bukan lagi sekadar retorika, melainkan ujian nyata integritas.
“Kejadian ini menjadi cermin dan pelajaran bagi kita semua,” ujar Sumekto.
Sebagai langkah taktis, BPBD berencana mengumpulkan seluruh elemen Relawan Penanggulangan Bencana (RPB), baik dari tingkat desa maupun kecamatan. Forum evaluasi ini dijadwalkan akan digelar pada akhir bulan.
“Rencananya besok tanggal 31, kita akan undang mereka semua. Kita akan ajak diskusi bersama untuk membahas hal ini,” pungkas Sumekto.
Langkah ini diharapkan mampu mengembalikan marwah baju oranye ke tempat semestinya: di garda depan perlindungan alam, bukan di tepi jembatan sebagai pelaku perusakan.

