Home » Evaluasi Gawai, Dikpora Terkejut Temukan Siswa Kelas 1 SDN Durensawit Minus 2,5

Evaluasi Gawai, Dikpora Terkejut Temukan Siswa Kelas 1 SDN Durensawit Minus 2,5

by Malindra Anji
Listen to this article

Wonosobo, satumenitnews.com – Menyambung sorotan mengenai tingginya intensitas penggunaan gawai pada anak usia dini, portal berita satumenitnews.com bersama Optik Nano Jaya resmi memulai rangkaian pemeriksaan mata gratis. Kick-off kegiatan hari pertama ini menyasar 131 siswa di SDN Durensawit, Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo, pada Kamis (26/2/2026) mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB.

Pada hari pertama, pemeriksaan difokuskan pada siswa kelas bawah. Rinciannya meliputi siswa kelas 1 sebanyak 29 anak, kelas 2 ada 15 anak, dan kelas 3 berjumlah 24 anak. Sementara untuk kelas 4 hingga kelas 6 dijadwalkan akan menjalani pemeriksaan pada Jumat besok.

Kepala Seksi Pengembangan Kurikulum dan Pengendalian Mutu SD Dinas Dikpora Kabupaten Wonosobo, Nardi, M.Pd., hadir diutus langsung oleh Kepala Dinas untuk membersamai kegiatan tersebut.

Nardi mengaku sangat prihatin setelah melihat secara langsung proses pengecekan mata. Di lapangan, ditemukan kondisi mengejutkan dimana ada siswa kelas 1 yang sudah mengalami mata minus hingga angka 2,5.

“Tadi kami menyaksikan sendiri pemeriksaannya dari kelas 1, 2, dan 3. Hasilnya memang cukup memprihatinkan. Banyak anak di kelas-kelas awal yang seharusnya memiliki penglihatan normal, ternyata sudah mengalami penurunan fungsi mata dan tidak seperti yang seharusnya,” ungkap Nardi di lokasi.

Baca juga :  Umat Muslim Lantunkan Doa Kamilin Setelah Sholat Tarawih, Begini Teks Lengkap dan Makna Spiritualnya

Menyikapi temuan ini, Dinas Dikpora menyatakan dukungan penuh agar gerakan pemeriksaan bisa dilaksanakan secara masif ke seluruh sekolah di Kabupaten Wonosobo. Nardi menegaskan hasil kegiatan ini akan dilaporkan kepada Kepala Dinas untuk dievaluasi bersama orang tua murid.

Ke depannya, bersama dengan stakeholder terkait, Dinas Dikpora mempertimbangkan pembuatan surat edaran atau aturan pembatasan penggunaan gawai di kalangan murid. Langkah ini dinilai penting, namun penerapannya membutuhkan penegasan dan contoh nyata dari orang dewasa.

Baca juga: Soroti Kecanduan HP Siswa SD Durensawit

Langkah deteksi dini ini mendapat apresiasi penuh dari Camat Leksono, Ngadenan Hadi Priyono, S.Sos. Ia menilai kegiatan ini sangat penting untuk mengevaluasi manfaat maupun dampak penggunaan gawai pada keseharian anak.

Ngadenan sempat berinteraksi langsung dengan para siswa untuk mengetahui seberapa lama durasi penggunaan gawai di rumah dan dampaknya ke penglihatan.

Baca juga :  Puluhan Warga Pesanggrahan Terima Bantuan Paket Sembako dari Adang Budaya

“Karena kalau kita ajak, tadi ada yang kita tanya, oh sampai jam 7 malam nih pakai HP. Ya yang seperti itu kita cek nih, nanti ada gangguan di penglihatan apa enggak,” ujar Ngadenan.

Ia menekankan bahwa pengawasan gawai adalah tanggung jawab bersama antara orang tua, guru, Dikpora, pemerintah kecamatan, hingga Pemerintah Kabupaten Wonosobo. Namun, peran serta orang tua dinilai paling penting karena memiliki waktu interaksi lebih lama untuk memberikan edukasi secara bijak.

Pemkab Wonosobo sendiri menaruh perhatian besar pada kesehatan masyarakat. Ngadenan merinci bahwa pengawasan dan dukungan kesehatan diberikan secara menyeluruh, mulai dari penanganan stunting, remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, ibu nifas, ibu menyusui, hingga anak balita. Hal ini dilakukan demi menyongsong Indonesia Emas 2045, di mana anak-anak SD saat ini yang kelak akan menggantikan posisi kepemimpinan.

Di sisi lain, fakta tingginya paparan gawai tersebut berbanding terbalik dengan laporan yang masuk ke komite sekolah. Ketua Komite SDN Durensawit, Supangat, mengaku terkejut saat mengetahui ada pengakuan anak kelas 1 yang bermain gawai hingga pukul 1 dini hari.

Baca juga :  Kumpulan Soal Ujian Kelas 6 SD 2021/2022 No 4

Supangat menjelaskan bahwa selama ini tidak ada satu pun wali murid atau masyarakat yang mengeluh kesusahan mengajak anaknya tertib bermain gawai apalagi sampai dini hari. Menurutnya, akses internet di wilayah tersebut sangat mudah didapatkan dan sudah banyak warga yang memasang fasilitas WiFi di rumah masing-masing menjadi salah satu pemicu.

“Mengenai informasi tersebut, saya sebagai komite justru belum tahu. Belum pernah ada orang tua yang mengeluhkan hal itu,” jelas Supangat.

Pihak komite dan sekolah sejatinya sering menyampaikan imbauan batasan gawai saat pertemuan wali murid. Penggunaan gawai yang berlarut-larut berisiko merusak penglihatan dan berpengaruh pada otak, yang pada akhirnya memicu keterlambatan dalam pembelajaran.

Menutup keterangannya, Supangat akan berpesan agar orang tua mengambil peran lebih tegas. Saat di lingkungan sekolah, anak menjadi tanggung jawab sekolah, namun setelah jam sekolah selesai, pengawasan sepenuhnya berada di tangan orang tua untuk mengarahkan dan memantau aktivitas anak di rumah.

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy