Home » Dinkes Wonosobo Siagakan Puskesmas 24 Jam, Jaelan: Kami Pengawas Mutu, Bukan Eksekutor Dapur MBG

Dinkes Wonosobo Siagakan Puskesmas 24 Jam, Jaelan: Kami Pengawas Mutu, Bukan Eksekutor Dapur MBG

by Manjie
Listen to this article

Wonosobo, satumenitnews.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Wonosobo meningkatkan status kewaspadaan dalam mengawal pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Seluruh Puskesmas diinstruksikan untuk bersiaga 1 kali 24 jam guna mengantisipasi segala kemungkinan risiko kesehatan yang muncul dari dapur penyedia atau Satuan Pelayanan Gizi (SPPG).

​Kepala Dinas Kesehatan Wonosobo, Dr. Jaelan Sulat, menegaskan bahwa kesiagaan ini merupakan bentuk tanggung jawab otoritas kesehatan dalam memitigasi dampak, baik jangka pendek maupun panjang. Namun, ia menekankan bahwa ranah Dinkes terbatas pada pengawasan mutu, bukan penindakan hukum atau penutupan usaha.

​“Konteks Dinas Kesehatan adalah pada isu pengawasan keamanan pangan. Memastikan bahwa makanan minuman yang diproduksi oleh SPPG aman, sehat, dan memberikan kontribusi positif,” tegas Jaelan saat ditemui di kantornya, Kamis (12/2/2026).

​Menurutnya, pengawasan ketat diperlukan untuk meminimalisir dampak negatif yang mungkin timbul, seperti keracunan pangan atau masalah gizi. Meski demikian, Jaelan meminta publik dan media untuk berhati-hati dalam menyebarkan informasi yang belum tervalidasi, karena hal tersebut dapat memengaruhi kinerja tim medis di lapangan.

​“Kalau viral (tanpa konteks), itu menambah beban mental teman-teman yang ada di lapangan. Kayaknya kan tertekan, padahal yang penting kan koreksinya, koreksinya kami tidak main-main kok,” ujarnya.

​Tim Penyelidikan Epidemiologi (PE) Dinkes Wonosobo sendiri telah diterjunkan sejak awal laporan masuk untuk memverifikasi setiap kasus. Jaelan menceritakan temuan spesifik di lapangan di mana gejala sakit siswa tidak selalu disebabkan oleh makanan program MBG.

​“Satu yang saya temui, ibunya bilang ‘Pak itu memang sudah sakit sebelumnya’. Tapi dia (anak) nggak mau bilang sama orang tua karena takut dimarahi habis jajan sembarangan. Ini kan kasus-kasus yang harus divalidasi,” jelas Jaelan memberikan contoh.

​Selain penanganan insidentil dengan menyiagakan Puskesmas 24 jam, Dinkes juga mendorong pola pemantauan kesehatan rutin. Jaelan merujuk pada model Penjaringan Kesehatan Anak Sekolah (screening) yang telah berjalan efektif di SMP Negeri 3 Kertek, Binangun, Kelurahan Wringinanom.

​“Standarnya setahun sekali. Praktiknya bisa seperti di Binangun (SMPN 3 Kertek). Konsepnya di Binangun, yang ngecek kesehatan gratis anak sekolah. Kita laksanakan di bulan Agustus-September,” tambahnya.

​Melalui kombinasi kesiagaan fasilitas kesehatan primer dan validasi data yang akurat, Dinkes Wonosobo berharap program MBG dapat berjalan aman tanpa kecemasan berlebih di masyarakat. Data hasil pengawasan Dinkes nantinya akan menjadi rekomendasi bagi pihak berwenang jika diperlukan tindakan lanjut terhadap penyedia jasa makanan.

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy