Bergerak dari Wonosobo, Pasukan SAR Bersurat Tugas Basarnas Tembus Longsor Pasirlangu

Listen to this article

Wonosobo, satumenitnews.com – Pos SAR Wonosobo menjadi saksi bisu pergerakan masif pasukan kemanusiaan yang bertolak menuju zona bencana di Jawa Barat. Merespons darurat bencana alam tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, puluhan personel relawan gabungan bergerak dalam satu komando resmi. Keberangkatan ini bukan inisiatif liar, melainkan misi terukur yang didasari surat jalan dan perintah resmi dari Kantor SAR (Basarnas) Semarang.

Eskalasi pergerakan relawan berpusat di Wonosobo pada Senin, 26 Januari 2026. Kota dingin ini menjadi titik kumpul strategis bagi gelombang besar relawan sebelum menerjang jalur selatan menuju lokasi bencana. Sebanyak 24 personel lintas instansi dan komunitas menyatukan tekad di halaman Pos SAR Wonosobo, membawa serta peralatan tempur untuk operasi pencarian dan pertolongan.

Veteran Turun Gunung

Kekuatan personel yang diberangkatkan dari Wonosobo terdiri dari figur-figur lapangan yang kenyang pengalaman. Satuan Celeng mengirimkan Guntur Geni, Dadang Skorfiyan, dan Fendi Dwi S, sementara Indra Mada hadir mewakili Celeng Ngapak. Widodo dari Grasindo dan Hery alias Barox dari Pramuli turut serta dalam barisan.

Dominasi personel juga terlihat dari IOF Rescue Magelang yang merapat ke Wonosobo untuk keberangkatan bersama. Nama-nama seperti Nurhadi, Joshua Arya D, Purwoko, dan Musalimin atau Limpung tercatat dalam manifest. Muhammad Raihan A, Sukariyono, Suojadi alias Mugiso, Sugeng, dan Agus Teguh S melengkapi skuad ini.

Solidaritas dari wilayah tetangga juga menyatu di Wonosobo. Sarkab Temanggung mendelegasikan Supriyanto (Cressy) dan M. Gondes Alimaksun. Tim Azora Temanggung diwakili Ardika Diva dan Wibowo, sedangkan Banaran East Route Temanggung mengirim Bayu dan Rujito. Rizza Pangestu dari Relawan Banjarnegara, Sutejo dari Relawan Nafas Tua, dan Ma’mun dari KSR PMI Banjarnegara memastikan diri ikut dalam konvoi panjang ini.

Sebelum gelombang besar dari Wonosobo ini bergerak, tim aju telah lebih dulu melakukan infiltrasi ke lokasi pada Minggu, 25 Januari 2026. Berangkat dari Semarang, Adi Prasetya Gondrong (PMI Salatiga), M. Eriandita Klowor (Sarda Jateng), serta dua personel Mentari Universitas Muhammadiyah Magelang, Tariq Aris Munandar dan M. Ilyas Abdul Gofur, bertugas memetakan situasi awal lapangan.

Relawan Tercatat Secara Administrasi

Koordinator Pos SAR Wonosobo, Dani Maulana, saat dikonfirmasi pada Selasa (27/1/2026) menegaskan bahwa seluruh nama yang berangkat telah terdata secara administratif dan operasional. Dani memastikan para relawan ini bergerak di bawah payung hukum surat jalan yang diterbitkan langsung oleh Basarnas Semarang, memberikan legitimasi penuh atas kehadiran mereka di lokasi Bantuan Kendali Operasi (BKO).

Dani menyebut rencana operasi ini akan berlangsung selama 10 hari. Durasi tersebut telah diperhitungkan dengan matang, didukung oleh logistik mandiri yang dibawa rombongan. Armada yang dikerahkan meliputi satu truk personel, satu mobil pickup, dan kendaraan operasional pendukung.

Kesiapan teknis pasukan yang bertolak dari Wonosobo ini terbilang lengkap. Mereka membawa mesin pompa atau alkon, gergaji mesin (chain saw), cangkul, sekop, hingga peralatan mountaineering untuk akses curam. Keberadaan dapur umum pribadi dalam rombongan ini menjadi strategi kunci untuk menjaga stamina relawan tanpa membebani posko utama di lokasi longsor.

Related posts

Belajar dari Cisarua, Sinyal Bahaya Alih Fungsi Lahan di Wajah Dieng

Lahan Kentang Naik Pangkat Jadi Vila, Hutan Lindung Turun Kasta Jadi Kebun

Ojol Wonosobo Hijaukan Menjer, Sentil Alih Fungsi Lahan Berkedok Wisata

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Read More