Wonosobo, satumenitnews.com – Rentetan bencana longsor yang terjadi secara simultan di Kabupaten Wonosobo memicu respons darurat dari berbagai elemen masyarakat. Yayasan Jagad Tunas Bumi (Jatubu) bersama lintas sektor melibatkan ratusan pelajar dalam aksi penanaman pohon kopi di Kecamatan Sukoharjo, Kamis (5/2/2026), sebagai upaya mitigasi kerusakan ekologis yang kian nyata.
Ketua Jatubu, Mantep Abdul Ghoni, membeberkan data kerusakan lingkungan yang menjadi dasar urgensi kegiatan ini. Ia menyoroti dua kejadian besar yang baru saja terjadi, yakni longsor di kawasan Gunung Kembang dan Patakbanteng.
“Yang hari ini bisa lihat sama-sama bagaimana Gunung Kembang longsor 14 hektare. Kemarin Patakbanteng longsor 1,5 hektare. Itu kan alarm. Alarm dari alam,” ujar Mantep di sela kegiatan.
Menurut Mantep, fakta tersebut menunjukkan bahwa daya dukung lingkungan di Wonosobo sudah berada dalam fase kritis. Ia menegaskan bahwa pelibatan sekitar 300 hingga 400 siswa dalam agenda ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya menanamkan kesadaran bahwa menjaga alam adalah kewajiban mutlak.
“Ini yang kita tanamkan ke anak-anak kita bahwa menanam itu sebenarnya kewajiban kita menjaga alam. Jangan sampai ada peristiwa pray for Wonosobo,” tambahnya.
Pelajar Turun Tangan
Para peserta yang terdiri dari siswa sekolah dasar hingga menengah tampak melakukan penanaman bibit di area yang telah ditentukan. Salah satu peserta, Ainun Salwa Qonita, siswa sekolah dasar setempat, mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan penanaman pohon secara langsung.
“Iya ikut menanam. Seru belum pernah menanam kalau di rumah. Senang, semoga cepat tumbuh besar,” kata Ainun.
Pelibatan generasi muda ini dinilai strategis mengingat dampak kerusakan lingkungan akan dirasakan dalam jangka panjang oleh generasi mendatang.
Pemerintah Akui Keterbatasan
Pemerintah Kabupaten Wonosobo merespons positif inisiatif masyarakat sipil yang bergerak secara mandiri. Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Wonosobo, Kristiyugo, mengakui secara terbuka bahwa pemerintah daerah memiliki keterbatasan sumber daya untuk menangani luasnya kerusakan lahan di wilayah hulu sendirian.
“Pemkab tidak cukup kuat menyelesaikan persoalan di sana,” ungkap Kristiyugo.
Ia menilai kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pelajar, aktivis, dan organisasi masyarakat adalah kunci untuk mencegah eskalasi bencana. Menurutnya, langkah mitigasi harus dilakukan sekarang sebelum terjadi bencana yang menelan korban jiwa.
“Mumpung sekarang tidak ada kejadian fatal, kami sambut baik kolaborasi ini,” pungkasnya.

